KERETA CEPAT
Proyek pembangunan kereta cepat
antara Jakarta dan Bandung akan dimulai pada 21 Januari mendatang,
menurut Sekretaris Kabinet Pramono Anung.
Setelah menggelar rapat
dengan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Wali Kota Bandung Ridwan
Kamil, Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat, dan pihak kontraktor,
Presiden Joko Widodo meminta pembangunan segera dilaksanakan.
“Proyek segera dijalankan, 21 Januari groundbreaking.
Perizinan hampir selesai semua, diharapkan tanggal 15 (Januari)
selesai. Presiden memang tekankan perizinan,” kata Pramono kepada
wartawan di kantor presiden, Senin (04/01).
Proyek pembangunan kereta cepat, yang akan melaju dengan kecepatan
250 kilometer per jam, bakal dimulai dari kawasan Halim Perdanakusuma,
Jakarta Timur, hingga kawasan Tegal Luar, Kabupaten Bandung.
Apabila
proyek itu telah rampung pada akhir 2018, perjalanan Jakarta-Bandung
diprediksi akan menghabiskan 35 menit. Adapun harga tiketnya sekitar
Rp225.000.
"Kami di Bandung menyambut baik. Pertumbuhan ekonomi
Bandung sekarang 8,8%, tanpa transportasi publik. Dapat dibayangkan
kalau ada high speed train dan light rail transit, saya punya keyakinan pertumbuhan di atas 10%," kata Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil.
Terintegrasi
Untuk
memudahkan calon penumpang, kereta cepat tersebut akan terintegrasi
dengan stasiun-stasiun dalam kota. Menurut Gubernur Jawa barat, Ahmad
Heryawan, kereta cepat akan terhubung dengan stasiun di dalam Kota
Bandung hingga Kabupaten Bandung.
Di Jakarta, kata Wakil Gubernur
DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, kereta cepat tersebut akan
terintegrasi dengan Stasiun Manggarai sehingga beban lalu lintas jalan
akan berkurang.
Kereta yang menuju stasiun dalam kota ke stasiun kereta cepat atau light rail transit
(LRT) juga akan dibangun oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC),
perusahaan khusus yang menggabungkan Badan Usaha Milik Negara, seperti
PT Wijaya Karya, PT Kereta Api Indonesia, PT Jasa Marga, dan PT
Perkebunan Nasional VIII dengan China Railway International Co. Ltd.
KCIC
dipilih untuk membangun proyek kereta cepat pertama Indonesia dengan
estimasi biaya sebesar US$5,5 miliar. Dari dana tersebut, 75% disediakan
China Development Bank milik pemerintah Cina dan sisanya ditanggung
bersama China Railway dan konsorsium BUMN Indonesia.
Proyek kereta cepat ini sempat dibayangi ketidakpastian, termasuk kabar penolakan proyek ini oleh presiden Joko Widodo, serta persaingan antara Jepang dan Cina.